Tuesday, February 08, 2011

Bina Pra Nikah : Pendidikan Iman Anak

Sesi kedua di pertemuan kedua kelas Bina Pra Nikah GKI Gunung Sahari membahas tentang Pendidikan Iman Anak. Pembicaranya adalah ibu Pendeta Nurhayati Girsang.

Btw... hmmm... kayaknya di pertemuan kedua ini emang fokusnya membahas sebagian hal yang terkait dengan rumah tangga deh.
Pertemuan pertama membahas sebagian hal yang terkait hubungan Pria dan Wanita.
Denger denger nanti di pertemuan ketiga kayaknya bakal membahas isu seksualitas.

OK, kita bahas dulu tentang Pendidikan Iman Anak.

Menurut perkiraan sotoy gue, sekitar 99% orang yang menikah itu mengharapkan lahirnya anak. Bahkan banyak pasangan yang stress dan minder apabila setelah menikah sekian waktu tapi tidak memiliki anak.
Anak adalah kepercayaan yang Tuhan berikan kepada sepasang suami isteri. Dan jika Tuhan mempercayakan sesuatu kepada kita maka kita dituntut untuk bertanggungjawab, demikian juga halnya dengan anak.

Tujuan Pendidikan Iman Anak adalah memberikan bekal warisan rohani kepada anak.

Ga semua orang bisa meninggalkan warisan harta (uang, mobil, rumah, dll) kepada anak anak mereka, tetapi semua orang bisa meninggalkan warisan iman karena iman tidak cuma milik golongan orang kaya.
Inti dari pendidikan iman anak adalah agar anak bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi.

Ibu Pdt Nurhayati memberikan patokan dari Ulangan 6:4-9
[4] Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
[5] Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
[6] Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
[7] haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
[8] Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
[9] dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Jika diperhatikan ayat ayat di atas, maka pendidikan iman anak harus dilakukan setiap saat. Jadi, kalo punya anak jangan cuma puas bisa membawa ke sekolah minggu yah.... itu mah jaaaauuuuuh dari cukup. Kalo cuma ngandelin guru sekolah minggu, jangan heran kalo nantinya anak anak ga punya bekal iman yang cukup. Yang model kayak gini mah gue udah sering liat.

Satu hal sederhana yang bisa dilakukan oleh suami isteri adalah mendoakan anak dari semenjak dalam kandungan. Kalau memungkinkan fasilitasi juga dengan musik rohani.

Ibu Nurhayati membagi 3 tahap pertumbungan anak, yaitu ketika Golden Age (0-6 tahun), Pratama (6-9 tahun), dan Madya (9-12 tahun).

Pola pendidikan yang harus dikembangkan dalam keluarga kristen adalah pola pendidikan Authoritative. Pola ini adalah garis tengah antara pendidikan otoriter dan permisif.
Otoriter = Mendidik anak dengan disiplin terus menerus.
Permisif = Mendidik anak dengan terlalu banyak memberi kebebasan
Authoritative = Seimbang antara disiplin dan kasih.


GOLDEN AGE (0-6 tahun)

Usia Golden Age adalah usia pertumbungan yang akan mempengaruhi keseluruhan masa depan sang anak. Dalam usia ini otak anak sudah mencapai 80% dari otak orang dewasa. Oleh karena itu usia Golden Age adalah usia yang rentan.

Pada masa ini pola yang dapat dikembangkan ada 3, yaitu
  1. Bermain. Udah pasti dong yang namanya anak anak itu demen bermain. Yah kita ajarkan permainan permainan yang mendidik.
  2. Menonton film. Pilihkan juga film yang cocok untuk mereka, karena mereka akan menserap banyak sekali pelajaran dari apa yang mereka lihat.
  3. Membaca. Anak jaman sekarang umur 3 tahun udah banyak yang bisa baca ABC. Usia sebelum itu bisa diajar dengan gambar gambar.

Pada usia golden age ini hindari anak dari pola pendidikan yang menekan dan menakutkan. Jangan mendidik anak dengan ancaman, dan hindari model pembelajaran "instruksi langsung".

Dan karena pada usia golden age itu anak banyak melihat dan mencontoh orang tua, maka kita harus bisa jadi teladan bagi mereka, terutama teladan dalam ibadah dan teladan dalam kebajikan.


PRATAMA (6-9 tahun)

Menurut ibu pendeta Nurhayati pada usia pratama kita harus memberikan pola pendidikan yang berbeda. Pada usia 6-9 tahun pola yang bisa kita berikan antara lain

  1.    Pola instruksi yang sederhana
  2.    Memfasilitasi dengan menggunakan buku buku, radio, dan film
  3.    Memepertahankan keteladanan dan menghindari dari ancaman.



MADYA (9-12 tahun)

Pada usia ini pola yang dapat dikembangkan adalah :

  1.    Mengembangkan pola instruksi yang lebih kuat
  2.    Mengembangkan model diskusi
  3.    Mengembangkan pengalaman dalam lingkungan hidup
  4.    Tetap mengunakan pola keteladanan dan menghindari ancaman.

Nah.... demikianlah keseluruhan topik yang dibawakan oleh ibu Pendeta Nurhayati.

Ketika ada sesi tanya jawab, terlihat banyak sekali peserta yang antusias (termasuk gue sih) yang pengen tahu banyak mengenai pendidikan anak. Sayangnya (lagi lagi) karena keterbatasan waktu maka ga semua bisa dibahas. Tapi untuk sebuah pelajaran pembukaan jelas ini sudah lebih dari cukup. Kalo ga salah GKI Gunung Sahari bahkan menyediakan kelas khusus orang tua yang memiliki anak. Dan sekali lagi gue sangat terkesan dengan kepedulian gereja terhadap keluarga. Nice :-)

No comments: